SEJARAH HARI KESAKTIAN PANCASILA

Hallo sobat muda…….Hari kesaktian pancasila lahir setelah pemerintah telah sukses menumpas Gerakan Partai Komunis ( PKI ) yang terkenal dengan istilah Gerakan 30 September.  Hari kesaktian pancasila diperingati untuk mengenang para jenderal yang menjadi korban keganasan gerakan PKI, para jenderal yang gugur dalam G30SPKI disebut pahlawan revolusi. Untuk mengenang Pahlawan Revolusi pemerintah Indonesia membangun monumen pancasila sakti.

Para putra terbaik bangsa yang telah gugur dalam gerakan G30SPKI yaitu :

  1. Letnan Jenderal A. Yani
  2. Mayjen R. Suprapto
  3. Mayjen haryono
  4. Mayjenn S. Parman
  5. Brigjen D.I. Panjaitan
  6. Brigjen Sutoyo
  7. Letnan Pire Andreas Tendean
  8. Birgadir Polisi Karel Susult Tubun

Sementara Jenderal Nasution Berhasil meloloskan diri dari kepungan G 30S PKI, meskipun kakinya terkena tembak dan putrinya Ade Irma Suryani menjadi korban dan beberapa hari kemudian meninggal dunia. Pada tanggal tersebut pemborontakan berhasil mengusai dua sarana komunikasi yakni RRI pusat dan Pusat telekomunikasi masing-masing dijalan merdeka barat dan dijalan merdeka selatan. Melalui RRI pagi jam 07.20 dan jam 08.15. pemberontak mengumumkan tentang terbentuknya “Dewan Revolusi” di pusat dan di daerah-daerah. Dewan Revolusi merupakan sumber segala kekuasaan dalam Negara Republik Indonesia. diumumkan bahwa gerakan tersebut ditujukan kepada anggota Dewan Jenderal yang akan menggulingkan pemerintah. Pada saat bersamaan diumumkan pendemisioniran Kabinet Dwikora. Jam 14.00 diumumkan lagi bahwa Dewan Revolusi diketuai oleh Letkol Untung dengan wakil-wakilnya Brigjen Supardjo, Letkol (Udara) Heru, (Laut) Sunardi dan Arjun Komisaris Besar Polisi Anwas. Usaha PKI untuk menculik dan membunuh Men Pangab Jenderal TNI A.H. Nasution mengalami kegagalan. Namun Ajudan Nasution Lettu Czi Piere Tendean dan putrinya yang berumur 5 tahun Ade Irma Suryani Nasution telah gugur menjadi korban keganasan G 30 S/PKI. Para pemimpin TNI AD dan Ajudan Jenderal TNI Nasution diculik dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI tersebut, kemudian secara kejam dibuang dan dikuburkan di dalam satu tempat yakni di sumur tua di Lubang Buaya daerah Pondok Gede.

Artikel/Foto : Diana Ayu N.

 

Add Comment