Surabayamuda.com – Tujuh tahun silam, tepatnya pada tahun 2014. Warga Surabaya digemparkan oleh berita konroversial tentang penutupan “Wisata Malam Esek-Esek” atau Kawasan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yang terkenal dengan nama “Dolly”.Saking terkenalnya, banyak sekali para wisatawan lokal dari berbagai daerah hingga mancanegara yang rela menyebrang dari Pulau Bali hanya untuk berkunjung di Kawasan ini.

Kompleks lokalisasi yang terletak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya ini menjadi penopang kehidupan bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi penjaja cinta saja, tetapi juga pemilik warung, penyedia jasa binatu, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Namun Kawasan Dolly saat ini memiliki wajah baru, tidak seperti dulu lagi.

Sebelum kita melihat seperti apa wajah baru Kawasan Dolly saat ini, mari kita menilik sejarah singkat tentang Kompleks Lokalisasi Dolly terlebih dahulu.

Semula kawasan Dolly adalah pemakaman Tionghoa. Pada tahun 1967, Dolly Khavit, seorang perempuan yang konon bekas PSK membuka usaha pelacuran. Ia mengangkat mucikari dari Kampung Cemoro Sewu dan membangun wisma bernama Barbara. Setelah itu, muncul wisma lain dan akhirnya di awal tahun 1970-an perkampungan itu berubah nama menjadi Gang Dolly.

Semakin lama Gang Dolly semakin dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut, dan panti pijat plus. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, dan ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.

Dolly kemudian mendapat predikat sebagai lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara mengalahkan Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Di Dolly terkumpul ribuan PSK yang berasal dari sejumlah daerah seperti Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Sidoarjo, Sumenep, Malang, Trenggalek, dan Kediri. Sedangkan mereka yang berasal Surabaya bekerja di Dolly sebagai model paruh waktu atau freelance.

Berbagai program diturunkan oleh pemerintah agar para PSK tidak lagi beroperasi, di antaranya dengan membekali mereka kemampuan usaha dan bekal Rp. 3 juta per PSK untuk membuka usaha baru di kampung halamannya. Untuk mendukung Program Surabaya Bebas Prostitusi, Kementerian Sosial memberikan tabungan senilai Rp4.200.000,- kepada 960 PSK. Upaya tersebut tampaknya berhasil dan mampu menurunkan jumlah PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga Mei 2012 tercatat sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.132 PSK. Dalam rangka melakukan penutupan, Pemerintah Kota telah menyiapkan Rp16 miliar untuk membeli seluruh wisma yang ada, yaitu sebanyak 311 wisma.

Pemerintah Kota Surabaya mengubah wajah Dolly dan Jarak dengan membangun gedung multi-fungsi berlantai enam yang dikenal sebagai Broadband Learning Center (BLC). Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL, lantai dua untuk aneka jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk perpustakaan dan komputer, lantai lima difungsikan sebagai taman bermain, dan lantai paling atas dijadikan sebagai Balai RW.

Di sekitar gedung juga dibangun taman-taman kota. Dolly yang dulunya mengkhawatirkan untuk tumbuh kembang anak disekitar sana, kini Kawasan Dolly sudah ramah anak dengan dibangun taman bermain di sekitar kawasan tersebut.

Dalam usaha merubah wajah baru di kawasan lokalisasi Dolly, pemerintah juga telah membangun sentra pasar burung dan batu akik, yang juga bertujuan untuk menertibkan pedagang-pedagang di Pasar Burung Kupang yang terletak di daerah Jl. Ronggo Warsito.

Bagi pemilik wisma yang enggan menjual bangunan wismanya kepada pemerintah, memilih untuk membuka usaha lain, seperti warkop dan café. Dimana café tersebut dulunya adalah bangunan wisma yang berbentuk seperti aquarium tempat untuk memajang “mbak-mbak” penjaja cinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis dan Foto : Elvira

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.