Berabad-abad lamanya, dan itu masih terjadi hingga sekarang. Posisi perempuan terpinggirkan. Lebih dari itu, kaum yang memilki perasaan lemah lembut tersebut di anggap lebih rendah pula jika di bandingkan dengan kaum berotot. Justru hal tersebut sangat bertolak belakang dengan nilai dan semangat islam yang agung dan mulia. ”islam itu tidak pilih-pilih” tutur pembantu dekan fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Wahidah Siregar
Islam memuliakan seseorang tidaklah melihat dari mana ia bersal. Ia dari suku mana. Kebangsaan apa yang ia sandang. Apalagi mempersoalkan , apakah ia laki-laki atau pun perempuan.”islam itu rahmatal lilalamin” tutur ibu dari empat orang anak tersebut.
Istri dari prof Kacung Marijan tersebut menuturkan. Seseorang yang mulia tidaklah diukur dengan hal-hal diatas. Melainkan orang yang bertakwalah yang mulia disisi Allah. Seperti yang difirmankan Allah dalam QS 49: 13 ”Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa”
Almarhum Mahmud Syaltut, mantan Syaikh (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir, menulis: “Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki.
Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus.
Karena itu, hukum-hukum Syari’at pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) juga demikian, dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum serta menuntut dan menyaksikan”
Sangat jelas dan gamblang tentunya islam menginformasikan terkait perihal posisi laki-laki dan perempuan. Siapakah diantara mereka yang lebih mulia dan rendah kedudukannya. Namun hal yang sudah berumur ribuan tahun tersebut masih saja terbawa dan diturunkan hingga berpuluh anak cucu hingga abad kini.
Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mengetahuinya. Dan juga menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim untuk mengenalnya. Siapakah perempuan kaya kemenakan dari pendeta Waroqoh bin Nauval. Bahkan ia merupakan saudagar terkarya sezamannya. Ya, permpuan itu adalah Khodijah binti Khuwailid, yang tak lain adalah isteri pertama dari Rosulullah Muhammad SAW. Dengan kekayaan dinar dan dirham yang ia miliki. Kesemuanya ia tumpahkan demi perjuangan suci untuk menegakkan kalimah ”Lailahaillah, Muhammad Rosulullah”. ”islam tidak melarang perempuan berdagang” ujar wanita berkulit putih tersebut.
Di indonesia khusunya, wanita yang raih gelar doktoralnya dari The Australian National University 2008 benua kangguru tersebut mencontohkan. Marilah kita intip terutama di desa-desa. Siapa yang bekerja di sawah?, siapa pula yang menanam padi. Perempuanlah yang menyelesaikan pekerjaan kasar tersebut.
Berarti kaum yang sering dipojokkan keberadaannya tersebut justru sangat berpotensi dalam memberikan income guna memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan rela, kaki, tangan, baju dan sekujur tubuhnya dipenuhi lumpur sawah dan ladang. Meski begitu, ia pun tetap senang dan tanpa beban merawat anak-anaknya dan meladeni suami sepenuhnya di rumah seharian penuh.
Kemerdekaan indonesia dari jajahan Belanda beratus-ratus tahun lamanya. Belum lagi ditambah injakan Jepang. Ataupun dentuman senjata, bom, dan tank-tank baja milik bangsa kulit putih Inggeris. Kemerdekaan itu tidaklah hanya diberikan oleh kaum pria saja. Melainkan kemerdekaan republik itu digotong bersama-sama oleh kaum hawa dan adam.
Untuk mengusir para penjajah dari bumi Nusantara ini wanita bertugas menjadi kurir mengantar surat-surat. Menjadi suster-suster setia mengobati para tentara pejuang yang terluka oleh musuh. Di sanalah sifat keibuan yang lemah lembut dan laki-laki perkasa dan tegar menjadi satu dalam sosok wanita pejuang.
Mereka tidak takut dengan desiran peluru penjemput nyawa. Merawat yang terluka, meski mereka tak mengenalnya, tapi mereka seperti merawat anak dan saudara mereka sendiri. ”lihat di filem Si Pitung….” tegas wanita yang juga dosen pasca sarjana IAIN Sunan Ampel surabaya tersebut.
Menurut pakar tafsir al-Quran, Pof. Dr. Quraisy Shihab. Kenyataan sejarah menunjukkan sekian banyak di antara kaum wanita yang terlibat dalam soal-soal politik praktis.
Ummu Hani misalnya, dibenarkan sikapnya oleh Nabi Muhammad saw. ketika memberi jaminan keamanan kepada sementara orang musyrik (jaminan keamanan merupakan salah satu aspek bidang politik). Bahkan istri Nabi Muhammad saw. sendiri, yakni Aisyah r.a., memimpin langsung peperangan melawan ‘Ali ibn Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan Kepala Negara. Isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah soal suksesi setelah terbunuhnya Khalifah Ketiga, Utsman r.a.
Selanjutnya Quraisy Shihab juga mengetengahkan samanya hak mengenyam pendidikan antara wanita dan laki-laki. Baik lelaki maupun perempuan diperintahkan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, mereka semua dituntut untuk belajar: Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim (dan Muslimah).
Para perempuan di zaman Nabi saw. menyadari benar kewajiban ini, sehingga mereka memohon kepada Nabi agar beliau bersedia menyisihkan waktu tertentu dan khusus untuk mereka dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan. Permohonan ini tentu saja dikabulkan oleh Nabi saw.
Banyak wanita yang sangat menonjol pengetahuannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan yang menjadi rujukan sekian banyak tokoh lelaki. Istri Nabi, Aisyah r.a., adalah seorang yang sangat dalam pengetahuannya serta dikenal pula sebagai kritikus. Sampai-sampai dikenal secara sangat luas ungkapan yang dinisbahkan oleh sementara ulama sebagai pernyataan Nabi Muhammad saw : Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humaira’ (Aisyah).
Begitulah kehebatan perempuan dalam mengarungi hidup. Selain seabrek kesibukan di rumah. Mereka juga lihai beraktifitas di luar ruang. Yang tak kalah pentingnya adalah caring the child. Mengasuh anak-anak mereka hingga siap seperti sang ibu. Dan dengan kompleksitasnya wanita tersebut. Cukuplah wanita diakui derajatnya sama dengan pria. Tidak ada kesenjangan diantaranya walau se senti pun. Bahkan kaum ibu itu bisa lebih hebat dan unggul di banding kaum bapak. “ibarat profesor, satu professor perempuan sama denagan tiga professor laki-laki” pungkas wanita kelahiran Binjai, Januari 1969. (Naskah : <Koresponden> Robbah Mahzumi/Foto : Krisna Fajar P)
surabayamuda.com | situs berita anak muda is designed by JasaWebsite